Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2015

Tikam Samurai (102)

Salma lalu meminta pada sopir taksi menuju ke Taman Wonderland Amusemen yang terletak dipinggir panta. Tak segera berlari kencang ke taman itu. Taman itu dahulunya adalah sebuah teluk. Karena kekurangan tanah makin lama makin mendesak, maka pemerintah kota Singapura, yang saat itu masih berada dalam bahagian dari Negara Malaya, mengambil prakarsa untuk menimbun teluk yang penuh lumpur itu. Sebagai gantinya, kini teluk itu telah berobah jadi taman yang sangat indah. Dihadapan taman itu, diseberang sungai, disebuah tanah yang menjorok ke laut, berdiri patung kepala singa dengan ekor ikan sebagai lambang kota Singapura. Patung itu berwarna putih setinggi lebih kurang tiga meter. Menghadap ke laut lepas. Seperti mengucapkan selamat datang pada kapal-kapal yang memasuki pelabuhan Singapura. Atau seperti penjaga yang mengawasi laut sepanjang selat. Taman itu kini setiap sore ramai dikunjungi orang. Disana, mereka menikmati matahari tenggelam. Melihat kapal-kapal membuang sauh. Dan bila malam, c…

Tikam Samurai (101)

“Dan dia pergi dari suatu kota ke kota lain untuk membunuh rasa sepinya…” “Ya…..” suara Michiko makin perlahan. Setelah ucapan Michiko yang terakhir itu, suasana lalu jadi sepi. Michiko menunduk. Salma masih menatapnya. Begitu pula Overste Nurdin. Mereka sama-sama diam. Lalu : “Apakah dia mengatakan kemana dia akan pergi setelah mengantarkan jenazah temannya itu?” Michiko masih berusaha untuk mengetahui rencana perjalanan si Bungsu. Kali ini tidak Nurdin yang bicara. Dia memberi isyarat pada isterinya untuk menjelaskan. “Ada. Dia memang mengatakan kemana dia akan pergi. Yaitu kalau dia bisa cepat meninggalkan Australia. Katanya dia ingin pulang ke kampungnya…’ “Ke kampungnya?” “Ya. Ke Situjuh Ladang Laweh. Ke kaki Gunung Sago di Payakumbuh seperti yang nona katakan tadi…” Salma berkata dan tersenyum lembut. Wajah Michiko jadi berseri. Dan itu semua tak luput dari amatan Salma. Tapi tiba-tiba wajah Michiko jadi murung lagi. “Apakah…apakah disana ada….” Dia terhenti. Nurdin dan Salma saling panda…

Tikam Samurai (100)

Tawanan-tawanan mereka biarkan tetap terikat di kapal. Mereka naik ke Jeep. Dan dalam waktu dekat Jeep itu meluncur lagi ke Markas mereka. Donald hapal benar jalan mana yang harus mereka tempuh menuju markas agar tak bertemu dengan orang banyak. Di markas mereka segera saja menelpon Polisi Singapura. Melaporkan tentang ditemukannya sarang penyelundupan wanita di Pulau Pesek. Mereka memberikan detail dari penangkapan. Dimana polisi bisa menemui enam orang anggota sindikat itu yang terikat di kapal. Dan menyertakan beberapa dokumentasi. Ketika polisi menanyakan siapa yang melaporkan, Tongky yang menelpon meletakkan teleponnya. “Nah, Letnan. Kini anda pegang komando. Apa lagi yang akan kita lakukan?” Donald berkata pada si bungsu yang sejak tadi duduk menatap pada Kapten Fabian yang masih belum sadar. “Sebaiknya kita tukar pakaian dulu. Kemudian mengantar Kapten Fabian ke rumah sakit..” “Ya. Ya. Saya rasa itu jalan terbaik yang harus kita ambil saat ini…” Miguel berkata. Dan mereka semua lan…

Tikam Samurai (99)

Dan saat itu, orang Itali itu tengah membidik ke arah salah seorang anggota Baret Hijau. Namun orang Itali ini nampaknya punya firasat yang tajam juga. Dia seperti merasa ada orang dekatnya. Dia menoleh ke kiri. Kosong. Ke kanan. Kosong. Namun hatinya tetap tak sedap. Dia melihat ke belakang. Dan darahnya seperti berhenti mengalir. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Di belakangnya, entah kapan datangnya, entah darimana asal muasalnya, telah berdiri saja seorang anggota Baret Hijau. Dan orang yang membuat dia kaget itu tak lain dan tak bukan daripada si Bungsu. Namun Itali ini segera jadi lega. Sebab ditangan orang itu tak tergenggam sepucuk senjata apapun. Ditangannya hanya ada sebuah tongkat kecil. Dia segera berbalik sambil menembakkan bedilnya setinggi pinggang ke arah si Bungsu. Tapi bedilnya tak pernah menyalak. Tangannya yang memegang bedil itu terasa lumpuh. Sakit dan pedih bukan main. Dan ketika menoleh, dilihatnya tangan kanannya telah putus! Dia hampir tak percaya. Namun si B…